Heart and Universe

Menjadi orang penting itu baik, tapi lebih penting menjadi orang baik

Pernah denger dong kalimat indah diatas, mengajarkan 2 hal sekaligus namun sebenarnya lebih mementingkan kalimat yang ke dua yaitu ” Lebih penting menjadi orang baik” bukankah itu berarti menjadi orang penting tidak sebaik menjadi orang baik ? Bagaimana bisa ?. Menurutku keduanya bisa menjadi setara. Melihat dari sikon zaman sekarang, menjadi orang baik saja tanpa menjadi orang penting juga tak bisa diartikan “baik”. Eits ! Jangan berfikir negatif dulu, menjadi orang penting yang aku maksud disini bukan punya kedudukan dan pangkat tinggi, bukan berarti harus menjadi presiden dulu.

Lalu, bagaimana ? Ah ini membingungkan, sungguh. Tenang…aku akan memberi penjelasan bagaimana yang aku maksud kan . Tapi ini hanya sekedar “sudut pandang” dan yang membaca boleh menerima atau memiliki sudut pandang yang lain, silahkan..

Menjadi orang penting yang aku maksud ini adalah bagaimana orang lain memandang “dirimu”. Setiap orang punya kedudukan dimata orang lain, dan kedudukan istimewa ini hanya bisa diperoleh dengan “kepercayaan, maaf, memberi,dan menerima” atau bisa disimpulkan dengan “HAM (Hubungan Antar Manusia) yang baik. Entah itu dirimu seorang penguasa maupun pengusaha yang sukses dengan punya semua hal, tapi apa daya yang kamu punya bukan teman tapi rekan bisnis, kamu berkeliling dunia tapi tak pernah menikmati waktu sebagai liburan, kamu mungkin menjadi penting dalam satu waktu lalu kemudian di lupakan. Itu adalah apa yang aku maksud dengan “menjadi penting”.

Setelah menjadi penting dimata orang lain, maka point kedua tentang menjadi baik sudah lama melekat dalam dirimu, karena tidak mungkin orang dengan kepercayaan, rasa sayang dan maaf bisa dikatakan orang tidak baik. kalau begitu teruslah begitu melanjutkan setiap kebaikan .

Tidak peduli seberapa kali kamu kecewa dan merasa luka, merasa orang lain tidak peduli, jangan pernah berhenti menjadi orang “baik dan penting” jangan pernah mencoba menjadi pecundang yang jahat untuk orang lain.

Kamu tahu ? Dalam pelajaran Sains kita diberitahu tentang yang namanya “seleksi alam” dimana alam akan terus berubah menjadi yang ia mau dan semua hal yang tinggal dialam semesta akan punah kecuali dia dengan kekuatan yang tidak terkalahkan dan punya daya tahan kuat akan selalu bertahan dalam perubahan. Salah satu yang akan terus bertahan dan tidak akan pernah luntur dan hilang adalah “kebaikan”. Jadi, ingatkan diri sendiri untuk berbuat kebaikan hari ini.

Advertisements

Ding Dong 🕧

Aku pernah membaca caption dari sebuah foto yang di upload teman ku di akun instagramnya, dia menuliskan “Tidak ada yang abadi tapi beberapa moment harus diabadikan”. Darimana pun ia jiplak tuh caption harus aku akui kalau aku menyukai makna yang ada dari kalimat tersebut.

Setiap orang punya kesempatan yang sama dalam waktu 24/7, tidak ada yang mendapat lebih ataupun kurang. Namun, dari ketetapan waktu yang sama bukan berarti setiap orang mendapatkan sesuatu yang penting yang disebut “Moment”.

Moment lebih dari sekedar waktu, ia membawa lebih dari sekedar rutinitas, ia memberikan detik berharga dan mungkin yaaa harus diabadikan lewat jepretan kamera.

Jika tak setiap orang mendapatkan moment lalu apakah moment bisa diciptakan ? Jawaban ku “Entahlah”. Kadang orang-orang berkata “Moment ada karena diciptakan” tapi menurutku apakah ia ada karena diciptakan atau memang sudah tercipta dan cukup menunggu keduanya bisa jadi sama. Bisa jadi moment yang kita ciptakan adalah moment yang sebenarnya sudah tercipta namun datang diwaktu yang tepat ketika hari itu kita mengusahakan.

Aku pernah berharap aku punya moment lebih dari moment yang orang lain punya, yahh walaupun aku tahu kalau moment satu sama lain tak bisa dibandingkan hehe. Tapi semakin aku dewasa aku menjadi semakin berfikir dalam realita, hidup terus berlanjut dan kita hidup dalam lingkungan yang terkonsep, kita menjadi satu dengan lingkungan yang cendrung homogen . Setiap orang pasti sama, ingin mencari orang-orang dengan kesukaan, aktivitas, dan mungkin lingkungan kerja yang sama untuk menjadi lingkungan terdekat. Jadinya, moment yang aku dapat juga sama dengan orang-orang disekitarku.

Mendapatkan hal yang itu-itu saja dengan orang-orang yang sama kadang mulai terasa membosankan. Itulah kenapa aku ingin sebuah perjalanan ketempat baru, bertemu orang-orang baru, budaya baru, dan sebuah tempat dimana aku menjadi asing namun sangat membahagiakan. Aku ingin mencoba makanan yang belum pernah aku cicipi, mencoba mengerti bahasa orang lain dan berkomunikasi dengan bahasa isyarat, mungkin. Waw akan sangat menyenangkan pastinya.

Haha, aku tidak memintamu untuk menciptakan moment dengan pergi keseluruh belahan dunia, itu hanyalah imajinasi yang entah akan jadi nyata atau tetap abadi sebatas imaji, yang jelas moment terbaik adalah moment dimana kita bisa menghargai dan mensyukuri moment yang ada hari ini, masih merendahkan diri dihadapan Tuhan dan tampa henti terus berdoa agar esok, lusa, minggu depan, bulan depan, dan mungkin tahun depan masih diberi waktu untuk merasakan moment-moment terindah yang akan datang, dan jangan lupa…mengabadikannya 😊

Dear Smoker …

“Kamu nggak ngerasain apa yang saya rasain, harusnya kamu coba dulu baru deh ngomong”. Kalimat penuh makna ini selalu aku denger dari orang-orang perokok yang ku tegur biar nggak ngerokok. Huft..kadang aku lebih milih diam biar nggak sakit hati, padahal maksud aku kan baik toh. Tapi setiap orang pada akhirnya berhak memilih dan menjadi seperti pilihannya. Entah itu pilihan yang baik atau buruk sekalipun.

Dilema memang, disatu sisi aku benci dengan semua hal yang berhubungan dengan rokok, mulai dari rokok itu sendiri, asap sampai kepada siperokok. Namun apa daya kalau aku sangat mencintai seorang perokok yang ku kenal yap dia adalah papa ku sendiri. Papa ku seorang perokok aktif setiap hari selalu merokok, tak seharipun ku lihat dia lupa dengan gulungan racun panas itu. Jangan tanya apakah aku sudah mengingatkan beliau. Sudah ratusan mungkin ribuan kali kata-kata mutiara yang ku ucap biar papa nggk ngerokok lagi, marah-marah juga udah kayak nya hehe tapi ya gitu nggak ada yang berubah.

Seperti yang aku bilang, aku benci semua hal yang berhubungan dengan rokok dan itu juga berarti kalau aku membenci diri ku sendiri karena aku adalah seorang “perokok pasif”. Mungkin sudah 30% rongga paru-paru ku rusak digerogoti asap rokok ditambah dengan polusi udara yang nggk kalah sadis. Aku bukan tipe orang yang suka memakai masker jika berada di lingkungan, kadang entah itu di kampus, halte, bus, atau dimana saja di dunia ini aku seringkali duduk sangat dekat dengan si pelaku, aku seringkali menggerutu dan mengutuk dengan kata-kata kasar (dalam hati sih). Menurutku bagaimana ada orang tidak berbaik hati membiarkan orang lain menghirup udara bersih dengan nyaman padahal Tuhan sudah menciptakan dengan baik lagi gratis.

Sepertinya memang semua orang tidak bisa berada dalam satu visi walaupun sebenarnya itu bukan visi namun keharusan. Menjaga kesehatan adalah kewajiban dan tanggung jawab diri dan itu adalah suatu hal yang baik bukan? Lalu kenapa masih orang tidak berfikir jauh tentang itu. Aku pernah menonton suatu acara dan kemudian aku menerapkannya, aku bertanya ke papa ku kalau aku ingin merokok juga, beliau langsung marah-marah dan bilang kalau aku benar-benar keterlaluan, aku bilang “tapi papa kan ngerokok masa aku nggak boleh?” Papa cuma diam lalu kemudian aku bilang ini ke papa ” kalau papa sayang ke aku masa papa nggak bisa sayang ke diri sendiri ?” Lalu papa cuma diam tanpa menjawab apa-apa. Lahh ternyata cara ini juga masih nggak ampuh kok.

Berhenti ngerokok bukan cuma soal fisik tapi harus benar ada niat yang tulus. Selagi kamu ngerokok itu berarti kamu masih belum tahu arti cinta (cinta diri sendiri, cinta orang lain dan yang penting cinta dengan cara bersyukur kepada Tuhan)